Jumat, 06 Mei 2016

REVIEW JURNAL PSIKOLOGI INTERNET

Jurnal Penelitian Psikologi
2013, Vol. 04, No. 02, 107-119
REVIEW JURNAL
TENTANG
HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN SOSIALISASI DENGAN KECANDUAN JEJARING SOSIAL
           
Jurnal penelitian Psikologi ini membahas tentang penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kemampuan sosialisasi dengan kecanduan jejaring sosial pada remaja di Jombang. Latar belakang penelitian ini dilakukan karena Jejaring sosial memiliki dampak signifikan pada sosialisasi. Beberapa dari perubahan ini untuk lebih baik, beberapa lebih buruk.
Sejarah perkembangan Internet merupakan modus baru dalam pendistribusian informasi dan ilmu pengetahuan. Di zaman globalisasi saat ini perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) begitu cepat, apabila tidak bisa memanfaatkannya disebut orang yang ketinggalan zaman. Salah satu pemanfaatan TIK yang paling popular saat ini adalah internet.
Meluasnya jaringan internet menyebabkan internet menjadi salah satu media untuk meningkatkan produktifitas dalam bekerja, meningkatkan kemampuan, sebagai sumber pustaka tanpa batas dan bahkan menjadikan internet sebagai lahan bisnis yang menggiurkan. Intinya dari situs jejaring sosial adalah interaktifitas.
Sekitar 5-10 persen orang yang mengakses internet diyakini mengidap candu. Mayoritas adalah mereka yang keranjingan game online. Mereka bisa menghabiskan waktu untuk nge-game berjam-jam tanpa makan dan minum, bahkan cenderung mengabaikan aspek lain dari kehidupan mereka sendiri. Oleh karena itu Jejaring sosial memiliki dampak signifikan pada sosialisasi.
Pengguna yang mengalami kecanduan internet kerap memutus komunikasi dengan keluarga dan teman sebaya di dunia nyata. Hal pertama yang dilakukan saat setelah bangun tidur adalah hidupkan komputer dan segera online. Banyak yang menyadari, pengguna yang mengabaikan aktifitas sosial dan kegiatan waktu luangnya. Tapi tidak mampu keluar dari jeratan dunia virtual. Pengguna tidak bisa lagi mengendalikan konsumsinya akan internet.
Jadi, berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah‚ Apakah ada hubungan antara kemampuan sosialisasi dengan kecanduan jejaring sosial?
Nurfajri (2012), Internet Addiction(kecanduan internet)adalah suatu gangguan psikofisiologis yang meliputi tolerance (penggunaan dalam jumlah yang sama akan menimbulkan respon minimal, jumlah harus ditambah agar dapat membangkitkan kesenangan dalam jumlah yang sama), whithdrawal symptoms(khususnya menimbulkan termor, kecemasan,dan perubahan mood), gangguan afeksi (depresi, sulit menyesuaikan diri),dan terganggunya kehidupan sosial (menurun atau hilang sama sekali, baik dari segi kualitas maupun kuantitas).
Menurut profesor Barnes (1954) Jaringan sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul (umumnya adalah individu atau organisasi) yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dll.
Dengan berkembangnya teknologi yang kian maju, dan merasuknya internet pada lapisan masyarakat, berkembang pula situs-situs jejaring sosial di kalangan masyarakat luas kini sudah sangat menjamur di semua kalangan masyarakat. Namun penggunaan situs jejaring sosial ini juga mempunyai dampak yang baik dan buruk terhadap perkembangan psikologis pada anak tersebut.
Dampak positifnya berkat situs jejaring sosial ini kita jadi lebih mudah berinteraksi dengan pengguna-pengguna lain yang memanfaatkan situs jejaring sosial ini untuk memperluas pergaulan. Jejaring sosial terdapat pula sisi negative, yaitu kita banyak kehilangan waktu yang bermanfaat, Kebingungan antara Dunia maya dengan Dunia Nyata, Meniru kekerasan dalam game online, kegagalan akademik, menolak untuk melakukan hal yang lain, mengikuti gaya-gaya yang didapatkannya, stress jika tidak ada internet dan efek stress yang dibawa itu menimbulkan penyakit ini yaitu aktivitas otak dan tekanan darah meningkat karena terisolir dari internet.
Buhler (dalam Widyana, 2011) sosialisasi yaitu proses yang membentuk individu melalui belajar dan penyesuaian diri, bagaimana cara hidup serta bagaimana cara berpikir kelompoknya agar ia dapat berfungsi serta berperan dalam kelompoknya. Jadi, sosialisasi merupakan sebuah proses yang berlangsung sepanjang hidup manusia. Meskipun prosesnya berlangsung seumur hidup namun menurut Berger dan Luckmann sosialisasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sosialisasi primer dan sekunder, (dalam Ruchayati 2012).
a.       Sosialisasi Primer
Sosialisasi primer adalah proses sosialisasi yang pertama dialami individu sewaktu kecil di lingkungan keluarga. Keluarga adalah media sosialisasi pertama sebelum anak mengenal dunia luar.
b.      Sosialisai Sekunder
Sosialisasi sekunder adalah merupakan tahap lanjutan setelah sosialisasi primer. Dalam tahap ini dikenal adanya proses desosialisasi, yaitu proses pencabutan identitas diri yang lama dan dilanjutkan resosialisasi. Resosialiasi  adalah pemberian identitas baru yang didapat melalui institusi sosial. 
Menurut Ruchayati (2012), ciri-ciri kemampuan bersosialisasi, antara lain :
a.       Pelakunya lebih dari 2 orang atau lebih
b.      Terjadinya komunikasi antara pelaku melalui kontak sosial
c.       Memiliki tujuan yang jelas
d.      Dilaksanakan melalui pola sistem sosial tertentu
Kecanduan juga diklasifikasikan menurut intensitas penggunaannya. Pratarelli dkk (1999), membagi penggunaan internet ke dalam empat model. Model pertama adalah ganguan perilaku berupa pengguaan internet secara berlebihan. Model kedua adalah penggunaan internet secara fungsional, produktif, dan bermakna. Model ketiga adalah penggunaan internet untuk mendapatkan kepuasan seksual dan atau mendapat keuntungan sosial. Pada model ketiga ini biasanya orang pemalu atau introvert menggunakan internet untuk bersosialisasi atau mengekspresikan fantasinya. Model yang terakhir adalah individu yang tidak atau hanya sedikit tertarik pada internet. Model pertama adalah yang biasa kecanduan disebut kecanduan internet.
Kecanduan Jejaring sosial adalah suatu kondisi kronis dalam sistem motivasi dalam perilaku mencari kesamaan sosialitas, mulai dari yang dikenal sehari-hari sampai dengan keluarga melalui internet. Jejaring sosial merupakan struktur sosial yang terdiri dari elemen-elemen individual atau organisasi. Jejaring ini menunjukkan jalan dimana mereka berhubungan karena kesamaan sosialitas, mulai dari mereka yang dikenal sehari-hari sampai dengan keluarga.
Pada umumnya, sosialisasi merupakan hasil dari interaksi dengan orang tua, para guru, dan teman-teman. Namun demikian, media massa, teknologi informasi dan lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya juga bertindak sebagai agen sosialisasi yang penting. Sosialisasi masyarakat merupakan suatu proses penanaman atau mempelajari nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan yang ada pada suatu kelompok masyarakat tertentu. 
Metode Penelitian
Populasi penelitian ini adalah 65 Siswa-siswi MAN  Jombang. Berjenis laki-laki dan perempuan. Berusia 16-18 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Random Sampling. Pada random sampling, semua anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk dimasukkan ke dalam sampel.
Identifikasi Variabel-variabel Penelitian ini meliputi Variabel Tergantung nya adalah Kecanduan Jejaring Sosial. Sedangkan Variabel Bebas yaitu Kemampuan bersosialisasi.
Kecanduan Jejaring Sosial di ungkap dengan menggunakan teori Goldberg, ciri-ciri kecanduan jejaring sosial adalah
1.      Sering lupa waktu,
2.      Gejala menarik diri,
3.      Munculnya sebuah kebutuhan konstan untuk meningkatkan waktu yang dihabiskan,
4.      Kebutuhan akan peralatan komputer yang lebih baik dan aplikasi yang lebih banyak untuk dimiliki,
5.      Sering berkomentar, berbohong, rendahnya prestasi, menutup diri secara sosial, dan kelelahan. 
Dalam penelitian ini skala disusun dalam kalimat-kalimat pernyataan dan responden (subyek) diminta memberikan tanggapan dengan memberikan √ (check atau centang) pada jawaban yang sesuai dengan keadaan sebenarnya pada subyek. Pada pernyataan Favourablerespon Sangat Setuju di skor 4, Setuju di skor 3, Kurang Setuju di skor 2, Tidak Setuju di skor 1. Pada UnFavourable respon Sangat Setuju di skor 1, Setuju di skor 2, Kurang Setuju di skor 3, Tidak Setuju 4.
Pada tabel Skala Kecanduan Jejaring Sosial, Hasil uji validitas (kesahihan) didapatkan hasil bahwa dari 57 item yang diuji ada 49 item yang valid, sedangkan jumlah item yang gugur sebanyak 8. Adapun item-item yang tidak valid meliputi item nomor : 13, 15, 17, 25, 29, 35, 41, 45. Indeks validitas antara 0,226 s/d 0,739. Hasil uji reliabilitas (keandalan) didapatkan hasil rtt = 0,944 dengan p = 0,000 yang berarti cukup reliabel (cukup andal).
Kemampuan bersosialisasi diungkap mengacu pada pendapat Ruchayati, Ciri- ciri kemampuan Bersosialisasi, antara lain : (1) Pelakunya lebih dari 1 orang, (2), Terjadinya komunikasi antara pelaku melalui kontak sosial, (3) Memiliki tujuan yang jelas, (4) Dilaksanakan melalui pola sistem sosial tertentu. 
Pada tabel Skala Kemampuan Sosialisasi, Hasil uji validitas (kesahihan) didapatkan hasil bahwa dari 35 item yang diuji ada 28 item yang valid, sedangkan jumlah item yang gugur sebanyak 7. Adapun item-item yang gugur meliputi item nomor : 16, 20, 22, 23, 24, 26, 27. Indeks validitas antara 0,245 s/d 0,587. Hasil uji reliabilitas (keandalan) didapatkan hasil rtt = 0,868 dengan p = 0,000 yang berarti cukup reliabel (cukup andal).
Penelitian ini bertujuan untuk menguji signifikansi korelasi antara Kemampuan Sosialisasi dengan Kecanduan Jejaring Sosial. Hal ini berarti menguji signifikansi hubungan satu variabel bebas bergejala kontinum dengan satu variabel tergantung bergejala kontinum pula, maka model analisis statistik yang tepat untuk penelitian ini adalah Analisis Korelasi Product Moment.
Hasil dan pembahasan
Hasil penelitian berupa hasil analisis statistik Product Moment. Hasil analisis didapatkan bahwa r XY= -0,402 dengan p = 0,001 (p < 0,01) hal ini menunjukkan bahwa Ada korelasi negatif yang sangat signifikan antara Kemampuan Sosialisasi dengan Kecanduan Jejaring Sosial. Arah negatif artinya semakin tinggi Kemampuan Sosialisasi maka semakin rendah Kecanduan Jejaring Sosial jadi hipotesis diterima.
Dari hasil analisis data dengan menggunakan analisis statistik Product Moment menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara Kemampuan Sosialisasi dengan Kecanduan Jejaring Sosial. Hal ini menunjukkan bahwa remaja yang mempunyai tingkat kemampuan sosialisasi tinggi, maka semakin rendah Kecanduan Jejaring Sosial. Sehingga mudah baginya mengalihkan kegiatan bermain internet dengan berinteraksi sosial pada orang lain. Sebaliknya jika remaja mempunyai Kemampuan Sosialisasi rendah, maka semakin sering remaja menggunakan Jejaring Sosial, karena baginya banyak waktu kosong dan tidak adanya kegiatan membuat remaja itu mengisi waktunya yang kosong dengan bermain Jejaring Sosial sehingga Kemampuan sosialisasi terhadap masyarakat, keluarga, teman, dan lingkungan sekitar kurang.
Penelitian ini, sampai taraf tertentu mampu menyumbangkan bukti mengenai kriteria penting kecanduan jejaring sosial. Berdasarkan kriteria yang dikembangkan oleh Young (1996,1999), diperoleh delapan kriteria kecanduan internet. Menurut Beart dan Wolf (2001), setidaknya ada enam kriteria yang harus dimiliki agar seseorang dapat diklasifikasikan sebagai pecandu internet. Kriteria kecanduan internet yang dapat diuji di dalam penelitian ini adalah :
1.      Pikiran yang terpreokupasi internet
2.      Waktu penggunaan internet semakin bertambah demi pemenuhan kepuasan diri
3.      Pernah mencoba namun gagal untuk mengendalikan, mengurangi atau berhenti menggunakan internet
4.      Tidak tenang, moody, depresif, dan mudah teriritasi
5.      Aktivitas online melebihi waktu yang direncanakan  
6.      Mengalami masalah atau mempunyai resiko kehilangan hubungan pribadi, kehilangan pekerjaaan, kehilangan kesempatan pendidikan, dan kehilangan karir.
Pada penelitian ini dari hasil perhitungan Mean Hipotetik variabel Kemampuan Sosialisasi didapatkan MH = 70, SD = 14, sedangkan Mean Empiris didapatkan ME = 83,523 hal ini menunjukkan bahwa ME pada kategori tinggi. Artinya Kemampuan Sosialisasi remaja yang menjadi sampel penelitian tergolong pada tingkat tinggi.
Pada penelitian ini dari hasil perhitungan Mean Hipotetik variabel Kecanduan Jejaring Sosial didapatkan bahwa MH = 117,5 SD = 21,16, sedangkan Mean Empiris didapatkan ME = 97,308, hal ini menunjukkan bahwa ME kategori rendah. Artinya Kecanduan Jejaring Sosial remaja yang sampel penelitian termasuk dalam tingkat rendah. 
Kesimpulan
Jurnal penelitian Psikologi ini membahas tentang penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kemampuan sosialisasi dengan kecanduan jejaring sosial pada remaja di Jombang. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Ada hubungan antara kemampuan sosialisasi dengan kecanduan jejaring sosial”. Sampel berjumlah 65 orang remaja berusia 16-19 tahun yang berasal dari sekolah MAN  Jombang. Teknik sampling yang digunakan yaitu quota random sampling. Variabel bebas pada penelitian ini adalah Kemampuan sosialisasi, sedangkan variabel tergantungnya adalah Kecanduan Jejaring Sosial. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan negatif antara kemampuan sosialisasi dengan kecanduan jejaring sosial. Metode analisis statistik yang digunakan adalah teknik korelasi product moment dengan hasil sebagai berikut : rxy = -0,402 dengan 0,001 (p < 0,01) hal menunjukkan ada korelasi negatif yang sangat signifikan antara Kemampuan Sosialasi dengan kecanduan jejaring sosial jadi hipotesis diterima.
Dari analisis data yang diperoleh, maka dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara  kemampuan sosialisasi dengan kecanduan jejaring sosial. Sehingga remaja yang sosialisasinya rendah semakin sering menggunakan jejaring sosial karena itu sebagai pengalihan remaja dan dianggap sebagai hiburan bahkan rutinitas yang harus dilakukan tanpa ada yang terlewatkan. Kemampuan sosialisasi yang tinggi akan membuat remaja tidak sampai kecanduan jejaring sosial karena remaja akan lebih mementingkan sosialisasi secara nyata dari pada hanya didunia maya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar