KONSEP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Belajar adalah satu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat.lingkungan akademik seperti di lingkungan sekolah, pelajar, siswa dan siswi serta mahasiswa yang mempunyai tugas untuk belajar. Kegiatan belajar ini adalah suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas mereka setiap hari.
Konsep tentang belajar sendiri telah banyak dikemuk akan oleh para ahli. Menurut Gagne (1984), Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Definisi Belajar dijelaskan oleh Driscroll (2000) yaitu perubahan yang terus menerus dalam kinerja atau potensi kinerja manusia. Oemar Hamalik (1995) berpendapat, Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Sedangkan menurut Nana Syaodih (1970), Belajar adalah segala perubahan tingkah laku baik yang berbentuk kognitif, afektif maupun psikomotor dan terjadi melalui proses pengalaman.
Pengertian belajar juga dijelaskan oleh James LM (2000), Belajar adalah upaya yang dilakukan dengan mengalami sendiri, menjelajahi, menelusuri, dan memperoleh sendiri. Sementara itu Garry dan Kingsley berpendapat bahwa Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang orisinil melalui pengalaman dan latihan-latihan. Konsep belajar juga dikemukakan oleh Robert dan Davies (1995) bahwa Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai suatu fungsi praktis atau pengalaman.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Belajar adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan sehingga membuat suatu perubahan perilaku yang berbentuk kognitif, afektif, maupun psikomotor. Dari pemahaman tentang pengertian belajar tadi, terdapat tiga atribut pokok (ciri utama) belajar, yaitu proses, perubahan perilaku, dan pengalaman.
1. Proses
Belajar adalah proses mental dan emosional atau bisa disebut juga sebagai proses berfikir dan merasakan. Seseorang di katakan belajar bila fikiran dan perasaannya aktif. Aktivitas fikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi akan terasa oleh yang bersangkutan (orang yang sedang belajar itu). Guru tidak dapat melihat aktivitas fikiran dan perasaan siswa. Yang dapat diamati oleh guru ialah manifestasinya, yaitu kegiatan siswa sebagai akibat adanya aktivitas fikiran dan perasaan pada diri siswa tersebut.
Sebagai contoh: siswa bertanya, siswa menjawab pertanyaan, siswa menanggapi, siswa melakukan diskusi, siswa menjawab soal, siswa mengamati sesuatu, siswa melaporkan hasil pekerjaannya, siswa membuat rangkuman, dan sebagainya.
Kegiatan-keiatan tersebut hanya akan muncul jika adanya aktifitas mental (fikiran dan perasaan). Sekarang muncul persoalan, bila siswa hanya duduk saja pada saat kita menjelaskan pelajaran kepada mereka, apakah siswa tersebut belajar? Bila siswa tersebut duduk sambil menyimak pelajaran yang kita jelaskan, maka siswa itu belajar, karena pada saat menyimak pelajaran terjadi aktifitas mental. Tetapi apabila siswa duduk sambil melamun atau fikirannya melayang-layang kepada hal diluar pelajaran yang sedang diajarkan, jelas siswa tersebut tidak mempelajari pelajaran yang diajarkan.
Apakah belajar cukup dengan hanya mendengarkan penjelasan guru saja? Tentu tidak cukup dengan cara itu saja. Mendengarkan atau menyimak melalui pendengaran hanya salah satu kegiatan belajar. Belajar yang baik tidak cukup dengan terjadinya aktifitas mental biasa saja, akan tetapi aktifitas mental dengan kadar yang tinggi.
Coba bandingkan aktivitas belajar di bawah ini.
1) Dinda siswa kelas V SD dengan penuh perhatian menyimak penjelasan guru tentang lingkungan hidup kemudian mencatatnya pada buku catatannya.
2) Zikra siswa kelas IV dengan dua orang temannya sedang serius mendiskusikan tentang masalah pencemaran dan pengaruhnya terhadap ekosistem.
3) Aliqa siswa kelas VI bersama teman-temannya sedang tekun melakukan suatu percobaan dalam pelajaran IPA. Nah, dari ketiga aktivitas belajar di atas, menurut anda aktifitas manakah yang mempunyai kadar belajarnya rendah dan yang mana aktivitas belajar yang kadar belajarnya tinggi? Ya, pasti anda akan memilih aktivitas belajar Zikra dan Aliqa sebagai contoh aktivitas belajar yang berkadar tinggi, sedangkan aktivitas belajar yang dilakukan Dinda termasuk pada kadar belajar yang rendah.
2. Perubahan Perilaku
Hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku. Seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, keterampilan motorik, atau penguasaan nilai-nilai (sikap).
Menurut para ahli psikologi tidak semua perubahan perilaku dapat digolongkan ke dalam hasil belajar. Perubahan perilaku karena kematangan (umpamanya seorang anak kecil dapat merangkak, duduk, atau berdiri, berjalan lebih banyak disebabkan oleh kematangan daripada oleh belajar). Demikian pula perubahan perilaku yang tidak disadari karena meminum minuman keras, tidak digolongkan ke dalam perubahan perilaku hasil belajar.
Perubahan perilaku sebagai hasil belajar ialah perubahan yang dihasilkan dari pengalaman (interaksi dengan lingkungan), dimana proses mental dan emosional terjadi. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar dikelompokkan ke dalam tiga ranah (kawasan), yaitu: pengetahuan (kognitif), keterampilan motorik (psikomotorik), dan penguasaan nilai-nilai atau sikap (afektif). Di dalam pembelajaran perubahan perilaku sebagai hasil belajar tersebut dirumuskan di dalam rumusan tujuan pembelajaran.
Coba perhatikan contoh di bawah ini :
1)Siswa memahami ciri-ciri mahluk hidup.
2)Siswa menghargai kebaikan teman yang telah memberi pertolongan.
3)Siswa dapat mengukur luas bangun datar.
4)Siswa dapat membuat anyaman dengan menggunakan bahan dari bambu.
5) Siswa dapat mempraktekkan solat dengan benar.
Rumusan tujuan pembelajaran nomor berapa yang dapat dikelompokkan ke dalam ranah kognitif? Ya tentunya rumusan tujuan pembelajaran nomor satu dan tiga termasuk ranah kognitif. Rumusan tujuan pembelajaran nomor dua termasuk ranah afektif, dan rumusan tujuan pembelajaran nomor empat dan lima termasuk ranah psikomotorik.
Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar pada aspek afektif, termasuk perubahan aspek emosional. Perubahan tingkah laku ini tidak dapat diamati dengan cepat, tapi membutuhkan waktu yang relatif lama. Misalnya seorang anak oleh kedua orang tuanya dibiasakan berlaku santun, bersikap jujur, terbuka, mampu berkomunikasi, memiliki tanggung jawab, semua perilaku ini perubahannya memakan waktu yang relatif lama, namun perubahan tersebut akan relatif permanen menerap pada diri seorang anak.
Perubahan hasil belajar juga dapat ditandai dengan perubahan kemampuan berfikir. Untuk itu seorang guru harus mampu mengembangkan proses pembelajran yang melatih kemampuan berfikir kritis, misalnya biasa mengembangkan kemampuan memecahkan masalah melalui model pembelajaran problem solving dan masih banyak lagi model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis. Oleh karena perubahan prilaku siswa dalam proses pembelajaran sebagai sasaran satu tujuan yang harus dicapai, maka perubahan perilaku harus dirumuskan lebih dulu dalam suatu rumusan tujuan pembelajaran, sehingga dalam suatu proses pembelajaran akan lebih terukur pencapaian perubahan perilaku yang diharapkan.
Lalu, ranah perilaku mana yang harus dimiliki siswa setelah salah satu pokok/sub-pokok bahasan diajarkan kepada mereka? bergantung kepada kompetensi dasar atau indikator hasil belajar yang telah dirumuskan di dalam silabus. Contoh- contoh tadi merupakan gambaran mengenai perubahan perilaku atau tingkah laku sebagai hasil belajar.
3. Pengalaman
Belajar adalah mengalami artinya belajar terjadi didalam interaksi antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik, contohnya: buku, media, perpustakaan, alam sekitar. Lingkungan sosial contohnya: guru, siswa, pustakawan, kepala sekolah. Lingkungan pembelajaran yang baik adalah lingkungan yang dapat menstimulasi dan menantang siswa untuk belajar. Guru yang mengajar tanpa menggunakan media biasanya akan kurang merangsang siswa untuk belajar lebih giat dan hal ini biasanya terdapat pada siswa MI.
Belajar bisa melalui pengalaman langsung maupun pengalaman tidak langsung. Belajar melalui pengalaman langsung, contohnya siswa belajar secara mandiri dengan mengalaminya sendiri. Bila siswa belajar tentang sholat yang dilaksanakan di mesjid atau mushola yang ada di lingkungan sekolah melalui praktik langsung yang dibimbing langsung oleh guru agama maka siswa akan memperoleh pengalaman langsung bagaimana cara melakukan sholat yang benar termasuk membaca bacaan sholat karena siswa melihat langsung melalui contoh yang diperagakan oleh guru. Belajar seperti itu disebut belajar melalui pengalaman langsung. Akan tetapi bila siswa mengetahuinya karena membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru, maka belajar seperti itu disebut belajar melaluipengalaman tidak langsung.
Belajar dengan melalui pengalaman langsung hasilnya akan lebih baik, karena siswa akan lebih memahami dan lebih menguasai pelajaran tersebut. Bahkan nantinya siswa akan merasakan pelajaran terasa lebih bermakna.
Perhatikan contoh kegiatan belajar di bawah ini:
1)Siswa Kelas IV SD mengamati bagian-bagian tubuh ikan dari gambar yang dipasang di papan tulis.
2)Siswa Kelas V SD sedang asyik mendengarkan penjelasan guru mengenai perjuangan Pangeran Diponegoro pada saat melawan penjajahan Belanda.
3)Siswa kelas III membuat bentuk persegi panjang dari kertas yang panjangnya 15 cm dan lebar 8 cm. Kemudian dipinggir persegi panjang tersebut dibutuhkan titik pada setiap jarak satu cm. Titik dengan titik yang berhadapan yang terdapat pada kedua pinggir yang panjang dihubungkan dengan garis. Demikian pula titik dengan titik yang berhadapan pada kedua pinggir lain. Akhirnya siswa memperoleh 120 kotak dengan ukuran satu x satu cm. Dari kegiatan itu siswa memperoleh rumus luas segi panjang (panjang x lebar).
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Oemar Hamalik, Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Mohammad Surya menjelaskan bahwa Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UU SPN No. 20. 2003). Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam ti ngkah laku tertentu. Pembelajaran merupakan subyek khusus dari pendidikan. (Corey, 1986).
Mencermati beberapa konsep pembelajaran sebagaimana yang dikemukakan di atas, dapat dimaknai bahwa didalam pembelajaran terdapat interaksi antara peserta didik dan pendidik, melibatkan unsur-unsur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Pembelajaran menggambarkan kegiatan guru mengajar dan siswa sebagai pebelajar dan unsur-unsur lain yang saling mempengaruhi.
Pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem, karena didalamnya terdapat beberapa komponen pembelajaran yang saling terkait antara komponen yang satu dengan komponen yang lain dan saling ketergantungan. Menurut Banathy “A system is integrated set of element that interact wich each other”.
Komponen-kompenen pembelajaran adalah sebagai berikut:
(1) tujuan, (2) bahan, (3) metoda, (4) media, (5) evaluasi. Setelah mencermati konsep belajar dan pembelajaran, selanjutnya yang menjadi persoalan kita ialah hal-hal apa yang harus diperhatikan dan diupayakan supaya belajar tejadi secara baik. Untuk menjawab persoalan tersebut, mari kita bicarakan prinsip-prinsip belajardan pembelajaran.
C.Prinsip-prinsip Belajar dan Pembelajaran
Prinsip belajar dan pembelajaran merupakan ketentuan atau hukum yang harus dijadikan pegangan di dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Sebagai suatu hukum, prinsip belajar akan sangat menentukan proses dan hasil belajar.Cermati uraian tentang Prinsip-Prinsip pembelajaran sebagai berikut: (1)Perhatian dan Motivasi (2) Keaktifan (3) Keterlibatan langsung (4) Pengulangan (5) Tantangan (6) Penguatan (7) Umpan Balik dan (8) Perbedaan Individual
1. Motivasi
Motivasi berfungsi sebagai motor penggerak aktivitas. Bila motornya tidak ada, maka aktivitas tidak akan terjadi. Apabila motornya lemah, maka aktivitas yang terjadi pun akan lemah.
Motivasi belajar berkaitan erat dengan tujuan yang hendak dicapai oleh individu yang sedang belajar. Bila seseorang yang sedang belajar menyadari bahwa tujuan yang hendak dicapai berguna atau bermanfaat baginya, maka motivasi belajar akan muncul dengan kuat. Motivasi belajar seperti itu disebut motivasi intrinsik atau motivasi internal. Jadi munculnya motivasi intrinsik dalam belajar,karena siswa ingin menguasai kemampuan yang terkandung di dalam tujuan pembelajaran.
Coba perhatikan contoh berikut ini Salma siswa kelas III di SD, bersungguh-sungguh mempelajari matematika, karena ia menyadari bahwa kemampuan dalam bidang matematika bermanfaat sekali di dalam kehidupan sehari-hari. Contoh lain: Annissa sangat bersungguh-sungguh belajar melukis, karena ia ingin menjadi pelukis terkenal.
Coba sekarang perhatikan contoh di bawah ini. Alif, siswa kelas II, bersungguh-sungguh belajar karena ayahnya menjanjikan sepeda mini bila ia menjadi siswa terbaik. Contoh lain: Aminah sungguh-sungguh belajar, karena ibu gurunya pernah memberikan pujian saat ia memperoleh nilai terbaik.
Dua contoh terakhir memiliki perbedaan dari dua contoh sebelumnya (kasus Salma dan Annissa ). dimana letak perbedaannya? Ya, pada dua contoh terakhir (kasus Alif dan Aminah), mereka sungguh-sungguh belajar bukan karena ingin menguasai kemampuan yang terkandung di dalam pelajaran, akan tetapi karena ingin hadiah atau pujian. Jadi tujuan yang ingin mereka raih berada di luar tujuan pelajaran yang mereka pelajari. Motivasi seperti itu disebut motivasi ekstrinsik atau motivasi eksternal.
Akan tetapi keempat contoh kasus di atas memiliki persamaan, yaitu semua siswa memiliki dorongan belajar, walaupun barangkali kadarnya berbeda. Motivasi intrinsik disebut pula motivasi murni, karena muncul dari dirinya sendiri. Oleh karena itu sedapat mungkin guru harus berusaha memunculkan motivasi intrinsik dikalangan para siswa pada saat mereka belajar; umpamanya dengan cara menjelaskan kaitan tujuan pembelajaran dengan kepentingan atau kebutuhan siswa.
Memunculkan motivasi intrinsik di kalangan siswa-siswa pendidikan tingkat dasar memang agak sulit, karena pada umumnya mereka belum menyadari akan pentingnya pelajaran yang mereka pelajari.Yang terpenting bagi guru bagaimana upayanya agar dapat menumbuhkan self motivation yaitu menumbuhkan motivasi yang datang dari diri siswa itu sediri walaupun awalnya melalui motivasi ekstrinsik. Memunculkan motivasi ekstrinsik dapat dilakukan antara lain dengan cara: memberi pujian, hadiah, menciptakan situasi belajar yang menyenangkan, memberi nasihat.
2. Perhatian
Perhatian erat sekali kaitannya dengan motivasi bahkan tidak dapat dipisahkan. Perhatian ialah pemusatan energi psikis (fikiran dan perasaan) terhadap suatu objek. Makin terpusat perhatian pada pelajaran, proses belajar makin baik, dan hasilnya akan makin baik pula. Oleh karena itu guru harus selalu berusaha supaya perhatian siswa terpusat kepada pelajaran. Memunculkan perhatian seseorang pada suatu objek dapat diakibatkan oleh dua hal.
Pertama, orang itu merasa bahwa objek tersebut mempunyai kaitan dengan dirinya; umpamanya dengan kebutuhan, cita-cita, pengalaman, bakat, dan minat. Kedua, objek itu sendiri dipandang memiliki sesuatu yang lain dari yang lain, atau yang lain dari yang sudah biasa, lain dari yang pada umumnya muncul.
Perhatikan contoh kasus di bawah ini:
1.Salah seorang siswa di salah satu SD bernama Andi memperhatikan penjelasan bapak gurunya tentang cara melaksanakan sholat ia sungguh-sungguh memperhatikan pelajaran tersebut: karena ia di rumah sedang belajarmelaksanakan sholat lima waktu.
2.Sekelompok siswa di SD pada suatu waktu mengikuti kegiatan pembelajaran dengan penuh perhatian, karena guru mengajarkan tentang pencemaran udara dengan menggunakan media video, yang sebelumnya guru tersebut belum pernah melakukannya.